JAKARTA – Di pusat-pusat perbelanjaan Jakarta atau Surabaya, pemandangan hampir selalu sama: kedai kopi artisan penuh sesak, gerai pakaian merek global tak pernah sepi antrean, dan gawai model terbaru selalu ludes dalam hitungan hari. Sekilas, kelas menengah Indonesia tampak gagah, seolah-olah menjadi tulang punggung konsumsi yang tak kenal lelah. Namun, Berita Resmi Statistik BPS per September 2025 (dirilis 5 februari 2026) membisikkan cerita yang berbeda di balik gemerlap lampu mal tersebut. Angka-angkanya menyimpan kegelisahan tentang “napas” mereka yang kian pendek di tengah kepungan dominasi kelompok elit.
Secara nasional, porsi pengeluaran kelompok 40% menengah tercatat sebesar 35,92%. Namun, mari kita bedah anomali yang terjadi di medan tempur ekonomi sesungguhnya: area perkotaan. Di sana, kelompok menengah hanya menguasai 35,01% pengeluaran. Angka ini terlihat kerdil jika disandingkan dengan kelompok 20% teratas yang mencengkeram 46,67% kue ekonomi. Artinya, hampir separuh perputaran uang di kota-kota besar Indonesia hanya dikuasai oleh segelintir orang.
Paradoks Kelas Menengah yang Terjepit
Fenomena ini adalah wajah dari The Squeezed Middle. Kelas menengah kita sedang terjebak dalam paradoks biaya hidup yang kian mencekik. Dengan disposable income (pendapatan siap pakai) yang tergerus inflasi pangan dan tingginya biaya hunian di perkotaan, daya dorong mereka terhadap ekonomi menjadi terbatas.
Secara teoritis, kelas menengah memiliki marginal propensity to consume (kecenderungan mengonsumsi marjinal) yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kaya. Jika mereka memiliki sisa uang satu juta rupiah, hampir semuanya akan dibelanjakan untuk barang dan jasa. Berbeda dengan kelompok elit yang sisa uangnya lebih banyak masuk ke instrumen investasi atau tabungan. Namun, data BPS menunjukkan bahwa porsi pengeluaran mereka stagnan. Jika mesin utama consumption-driven economy ini tidak memiliki bahan bakar yang cukup, maka pertumbuhan ekonomi nasional akan sulit melompat lebih tinggi.
Jika kita melihat Kurva Lorenz untuk wilayah perkotaan, garisnya melengkung lebih tajam menjauh dari garis diagonal pemerataan dibandingkan wilayah perdesaan. Lengkungan ini adalah “luka” yang menunjukkan bahwa akumulasi kekayaan menumpuk di puncak piramida, meninggalkan kelas menengah berjuang keras hanya untuk mempertahankan gaya hidupnya.
Sinyal Bahaya bagi Sektor Consumer Goods
Bagi para investor retail dan produsen consumer goods, data ini adalah navigasi yang krusial. Strategi bisnis yang selama ini terlalu mengandalkan volume massa pada segmen menengah mulai menghadapi jalan terjal. Jika porsi pengeluaran kelompok menengah tidak tumbuh signifikan, pertumbuhan penjualan perusahaan barang konsumsi kemungkinan besar hanya akan merangkak tipis, atau bahkan terkontraksi.
Risiko bagi pasar modal juga nyata. Ketika kelas menengah tidak memiliki tabungan yang cukup untuk masuk ke instrumen investasi karena pendapatannya habis untuk kebutuhan pokok yang mahal, maka likuiditas di bursa domestik akan terus bergantung pada aliran modal asing atau segelintir investor kakap. Kita tidak akan memiliki basis investor domestik yang kuat dan stabil.
Dari Massa ke Nilai
Penurunan Gini Ratio nasional menjadi 0,363 memang patut diapresiasi, namun jangan sampai kita terjebak dalam euforia statistik. Penurunan ini lebih banyak dipicu oleh perbaikan pengeluaran di kelompok 40% terbawah (yang naik menjadi 19,28%), bukan karena penguatan fundamental kelas menengah.
Pesan bagi pelaku bisnis sudah sangat jelas: pasar Indonesia sedang bergeser. Era mengejar “volume” di kelas menengah mungkin mulai mencapai titik jenuhnya. Kini, perusahaan harus mulai melirik strategi berbasis “value” atau premium. Kelompok 20% teratas yang menguasai 46,67% pengeluaran adalah pasar yang daya belinya nyaris kebal terhadap guncangan.
Bagi pemerintah, menagih pertumbuhan yang berkualitas berarti harus memberikan insentif nyata bagi kelas menengah—mulai dari pengendalian harga kebutuhan urban hingga ketersediaan lapangan kerja formal yang berkualitas. Tanpa itu, kelas menengah hanya akan menjadi penonton dalam panggung kemakmuran yang kian eksklusif, sementara napas ekonomi mereka terus diburu waktu.





