JAKARTA – Ekonomi Indonesia menutup tahun 2025 dengan rapor yang sekilas tampak impresif. Angka pertumbuhan ekonomi pada Triwulan IV-2025 mencatat lonjakan meyakinkan sebesar 5,39 persen (year-on-year). Jika hanya melihat kulit luar, capaian ini seolah menjadi oase di tengah ketidakpastian global yang masih menghantui. Namun, bagi mereka yang terbiasa membedah neraca nasional, angka “cantik” ini menyimpan anomali yang menuntut kewaspadaan lebih dalam: dari mana sebenarnya tenaga tambahan ini berasal?
Jika kita membedah lebih dalam data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) baru-baru ini, terlihat jelas adanya ketergantungan yang akut pada “napas tambahan” dari sektor publik. Angka pertumbuhan tahunan (c-to-c) sebesar 5,11 persen memang melampaui capaian 2024, namun akselerasi di pengujung tahun lebih menyerupai suntikan adrenalin fiskal daripada penguatan fundamental sektor riil.
Doping dari Lapangan Banteng
Sorotan tajam tertuju pada komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P). Pada Triwulan IV-2025, konsumsi pemerintah secara kuartalan (quarter-to-quarter) melesat hingga 37,68 persen. Ini adalah lonjakan yang fantastis, bahkan untuk ukuran siklus tahunan. Kita semua tahu pola klasik di birokrasi kita: fenomena “kejar tayang” anggaran. Kementerian dan lembaga seolah berpacu dengan waktu untuk menghabiskan sisa pagu sebelum lonceng tahun anggaran berbunyi.
Pertanyaannya, apakah lonjakan belanja ini benar-benar memberikan efek pengganda (multiplier effect) ke bawah, atau sekadar pemenuhan target administratif penyerapan anggaran? Belanja barang dan jasa yang jor-joran di akhir tahun memang mampu mengatrol angka PDB secara instan, namun ia seringkali bersifat jangka pendek dan tidak menyentuh akar produktivitas. Ketika pertumbuhan didorong oleh mesin birokrasi yang dipaksa bekerja di menit-menit terakhir, maka kualitas dari pertumbuhan itu sendiri menjadi layak dipertanyakan.
Paradoks Pertumbuhan, Otot Riil atau Stimulus Semu?
Di sini letak paradoksnya. Pertumbuhan 5,11 persen sepanjang 2025 seharusnya menjadi sinyal pemulihan otot sektor riil. Namun, jika pertumbuhan triwulanan yang tinggi itu lebih banyak disumbang oleh konsumsi pemerintah yang bersifat musiman, maka kita sedang membicarakan “pertumbuhan semu”.
Sektor industri pengolahan dan konsumsi rumah tangga—dua motor utama ekonomi—tampak masih berjuang menjaga ritme di tengah tekanan daya beli. PK-P yang melonjak 37,68 persen secara kuartalan menjadi kontras yang ironis ketika disandingkan dengan ekspansi sektor swasta yang masih cenderung konservatif. Kita tidak bisa terus-menerus mengandalkan stimulus fiskal di akhir tahun untuk memoles statistik nasional. Tanpa penguatan signifikan di sektor manufaktur dan konsumsi masyarakat yang organik, angka 5,11 persen ini hanyalah kosmetik ekonomi.
Implikasi bagi Pelaku Bisnis dan Investor
Bagi pengusaha dan investor, angka 5,39 persen di Triwulan IV ini tidak boleh ditelan mentah-mentah sebagai sinyal booming pasar. Fenomena ini lebih merupakan “pesta kembang api” yang akan meredup begitu memasuki Triwulan I-2026. Sejarah mencatat bahwa setelah lonjakan belanja pemerintah di akhir tahun, seringkali terjadi cooling down atau pendinginan aktivitas ekonomi di awal tahun berikutnya seiring dengan siklus perencanaan anggaran yang baru dimulai kembali dari nol.
Investor perlu melihat apakah pertumbuhan ini dibarengi dengan kenaikan investasi tetap (PMTB) yang solid atau hanya bersifat konsumtif. Jika struktur pertumbuhan tetap timpang dan terlalu bergantung pada belanja negara, maka risiko volatilitas akan tetap tinggi. Keberlanjutan (sustainability) pertumbuhan 2026 justru bergantung pada bagaimana pemerintah mampu mengubah belanja “kejar tayang” menjadi investasi infrastruktur dan kebijakan yang benar-benar memacu sektor swasta untuk kembali agresif.
Paradoks Pertumbuhan 5,11% (C-to-C), 5,39% (Y-on-Y)
Angka 5,11 persen adalah pencapaian yang patut diapresiasi secara administratif, namun secara substansi ekonomi, ia memberikan sinyal peringatan. Pertumbuhan ekonomi yang sehat seharusnya didorong oleh mesin-mesin produktivitas yang bekerja stabil sepanjang tahun, bukan hasil “akselerasi paksa” di akhir periode.
Pemerintah harus segera lepas dari ketergantungan pada booster musiman ini. Jika kualitas pertumbuhan terus dikesampingkan demi mengejar target statistik, kita hanya akan terjebak dalam siklus pertumbuhan yang rapuh. Sudah saatnya kita lebih peduli pada “bagaimana” angka itu dicapai, daripada sekadar “berapa” angka yang dilaporkan. Jangan sampai kita merayakan pertumbuhan ekonomi yang sejatinya hanya napas buatan dari anggaran negara.





